Mu’awiyatu Al-laitsi. Sejarah nama ini telah banyak disebut pada postingan sebelumnya hingga mengundang rasa mual di mata pembaca :-). Adakah gambaran lain tentang nama itu? ada! Saya, sebagai pemilik nama indah itu (eh), adalah sulung yang lahir di tanah Sumatera, besar di Sumatera,
namun berdarah jawa, murni. Saya adalah penulis diary paling handal sejak kelas
1 SD. Setidaknya begitu komentar Ibu saya karena dikalangan teman-teman, hanya
saya yang telaten mencoret cerita apapun di kertas apapun. Ketika SMP, saya
dijauhkan dari rumah oleh Ayah saya beratus-ratus kilometer ke sebuah daerah
dimana orang menyebutnya Bumi Minangkabau. Saya hijrah dari bagian selatan Sumatera
dan mulai tumbuh di Sumatera Barat. Awalnya saya pikir ayah saya benar-benar
tega terhadap anaknya, namun beberapa bulan kemudian, ketika menemukan harta
karun mengintip malu di sudut rak perpustakaan sekolah saya, saya baru
menyadari bahwa itulah rumah kedua saya. Saya menyebut buku itu harta karun
karena sejak saat itulah saya jatuh cinta pada dunia literasi.
Konspirasi,
sebuah kumpulan epik karya Melvi Yendra. saya mengerti istilah epik beberapa
tahun kemudian, ketika hal itu saya tanyakan pada guru Bahasa Indonesia ketika
SMA. Saat itu yang langsung terlintas di benak saya sebagai seorang anak
berusia tiga belas tahun adalah, seberapa seringkah sang penulis berkunjung ke
luar negeri? Sampai dia bisa jeli menggambarkan sebuah cerita dengan latar
belakang bukan tempat tinggalnya. Tiada
Jalan Lari, Konspirasi, di bawah
Hujan Salju, Rendezvous, oh saya benar-benar telah jatuh cinta.
Buku
kedua yang membuat saya benar-benar yakin akan cinta saya adalah Bulan Mati di
Javache Orange karya Afifah Afra. Novel berlatar sejarah ini menggugah nurani
saya yang tiba-tiba memahami satu hal, jika ingin menulis dengan bagus, kita
perlu belajar, kita perlu pintar. Buktinya Uda
Melvi tak perlu benar-benar ada di luar negeri untuk menghadirkan epik yang
menawan, dan teteh afifah afra juga
tak perlu ada di jaman kolonial belanda untuk melahirkan trilogi menakjubkan
itu.
Sekolah
saya itu surganya kumpulan fiksi hebat, menurut saya waktu itu. Dan yang saya
heran di setiap sudut buku yang saya baca selalu ada lambang tulisan FLP, yang
kemudian saya tahu bahwa FLP adalah organisasi penulis hebat. Lambang itu
langsung mengukirkan dirinya sendiri dalam daftar mimpi besar saya. Tahun 2005,
kami juga mendapat kunjungan dari salah satu penulis anggota FLP, teteh Pipiet Senja, yang mengadakan
pelatihan dan kelas menulis beberapa hari yang membuat saya seolah berada di surga
(lebay ya? Tapi itu kenyataannya :D). Beliau juga mengadakan lomba menulis
tingkat sekolah dan kebetulan saya juara 3, bayangkan betapa melambungnya saya
saat itu.
Ketika estafet cerita hidup
membuat saya akhirnya harus hijrah ke jantung Indonesia ini, Jakarta, saya
merasa FLP Jakartalah yang harus saya cari pertama kali. Alhamdulillah,
ternyata Allah jelas membaca kehausan saya dan mempertemukan saya dengan telaganya.
Saya sudah menerbitkan kumpulan cerpen pertama saya, dan inspirasi terbesar
saya adalah dua penulis itu yang telah membuat saya rajin melanjutkan kembali
ketelatenan saya menulis apapun di kertas manapun. Ketika tahu bahwa open recruitment FLP Jakarta hadir tepat
ketika saya merangkak, mengenal dan menyahabatkan diri dengan kota besar ini, saya
tahu bahwa saya telah temukan rumah saya. Welcome home :)