Sabtu, 22 November 2014

NAMA DISEBALIK SEBUAH NAMA



PART I ( PENGANTAR ABAL-ABAL)

Baiklah, saya ingin mencoba menggambarkan 2 tokoh berpengaruh, namun sebelumnya biarkan saya menceritakan seseorang yang tidak begitu penting untuk diceritakan. Tapi tak apalah, setidaknya bisa jadi teman menikmati secangkir kopi pahit agar jadi tambah pahit. haha.

Dia adalah seorang perempuan, berusia 23 tahun, yang menyandang begitu banyak obsesi dalam hidupnya. Menjadi reporter, penyair, penulis, sutradara, penyanyi, guru, pemain biola, dan entah apalagi. Tetapi lambat laun, banyak dari obsesinya yang dia coret satu persatu. Ketika dia menyadari suaranya masih jauh dari kata layak disaudarakan dengan istilah merdu (baca: fales), dia berpikir seribu kali lagi untuk beranjak dari penyanyi kamar mandi. Atau ketika bahkan sampai usia 23 tahun dia tak pernah memegang satupun alat musik kecuali gitar, dia mencoba melupakan biola. Atau juga ketika setamat SMA tak ada lagi pentas drama yang bisa dia sutradarai, dicukupkannya sampai disana karena sepertinya untuk menjadi sutradara sungguhan, tak sesederhana ketika membuat sebuah drama berhasil. Toh, dia malah masuk akademi kebidanan ketimbang milih masuk sekolah teater atau yang berbau-bau perfilm-an.

Dia adalah perempuan plin plan. Setidaknya itu yang disuarakan 99% orang yang kenal dengannya. Mulai dari memilih warna kesukaan, tokoh kebanggaan, film kesukaan, jurusan sekolah, bahkan sampai memilih kepada siapa dia jatuh cinta. Ah, tidak juga. Kurasa dia tidak se plin plan itu. Dia hanya agak sering kebingungan saja, hingga kadang kebingungannya menimbulkan kekacauan dalam kepalanya sendiri atau parahnya menyeret-nyeret orang lain untuk dia ajak bingung. Ya sudahlah, intinya sama saja. Dia memang perempuan plin plan.

Ayahnya pernah bilang, dia adalah perempuan petualang yang enggan berpikir jauh tentang keuntungan dan kerugian perjalanannya. Sehingga acapkali dia memilih untuk belok ke kiri dan lanjut meskipun tahu bahwa dia salah arah. Dia sungguh perlu belajar membaca kompas, kurasa. Dia agak buta arah, yang ditakutkan adalah jika terlalu jauh, bisa-bisa dia tak tahu jalan pulang.

Dia adalah seorang perempuan, namun tak tertarik untuk ribet. Dia lebih memilih keliling gramedia sendirian kemudian mampir ke foodcourt untuk membeli burger atau apalah itu dan memakannya sendirian sambil memperhatikan kaki-kaki yang lewat di depannya. Kadang, menyingkir dan duduk disebelah orang yang tak neko-neko lebih dipilihnya daripada duduk beramai dan bercerita kosong yang hanya menimbulkan suara gaduh. Sangat tidak pandai memulai sosialisasi namun lebih tak pandai lagi untuk meninggalkan. Jika sudah terlanjur berteman, sampai matipun akan tetap berteman. Namun kadang apa yang ada dalam kepalanya tak selalu bertemu dengan apa yang ada dalam kepala temannya, sehingga akhirnya tetap kata “sendiri” yang dipilihnya.
Tak pernah mau bersahabat dengan pemoles bibir (baca: lipstik) dan mobil ber-AC. Jangankan untuk memakai di bibir sendiri, untuk mencuci gelas setelah menjamu tamu jika ada cap lipstik di permukaan gelas, dia tak akan sudi menyentuhnya. Berlebihan sekali memang, tapi tak apalah. Kadang kita memang cenderung suka dan benci terhadap hal yang agak kurang masuk akal. Bicara tentang mobil, sudah sepuluh tahun perempuan itu berpetualang, namun tak mampu sembuhkan jet lag-nya. Akan ada waktu sakit selama 3 hari setelah dia melakukan perjalanan kemanapun jika dengan mobil mewah ber-AC. Lain cerita jika dengan mobil pick up, truk, metromini, dan semacamnya. She loooovveee that so much. Haduh!

Bicara tentang perempuan ini tak akan ada habisnya. Karena tidak bisa berakhir dengan cerita tentang daughtry dan semua lagunya yang tak ada tandingan. Tiga jam kemudian dia tiba-tiba sangat bersemangat bercerita tentang The script, coldplay, atau Secondhand serenade. Mungkin itulah defenisi sebenarnya dari kata “plinplan”. Dunianya adalah ketika dia duduk di tepian jendela, sore hari, menulis apapun yang bisa ditulis, atau melahap puluhan volume maintatei conan, belasan seri Sherlock holmes, puluhan cerpen AS Laksana, dan deretan pemusik diatas melagu di telinganya. Atau, dia duduk diam saja disana, memandang apapun yang bisa dipandang, dan menterjemahkannya ke dalam bentuk apapun sesukanya.

Imajinasinya terlalu tinggi, sehingga tak anyak orang yang mampu menerima pun mengiringi. Terkadang, dua tiga orang berkata langsung padanya bahwa apapun yang dikerjakannya tak bertemu guna. Kuliah di kebidanan, namun lebih suka bicara tentang Sapardi Djoko Damono dan kawan-kawan, tak ayal membuatnya di cap tenaga kesehatan abal-abal. Sekolah tiada henti membuat orang menudingnya sebagai manusia tak tentu tujuan. Mereka hanya tidak tahu bahwa dialah perempuan dengan segudang obsesi di pundaknya. Aku percaya, dia bisa lakukan semua itu. Aku, sebagai orang yang paling mengenalnya, sangat yakin bahwa dia tak selalu plin plan. Ada saatnya dia tahu ini baik untuknya dan ini buruk. Setidaknya, ada dua orang paling berpengaruh dengan watak berbeda yang disematkan ayahnya dalam namanya. Dua orang yang perlu dia tekuni riwayatnya, karena ayahnya tak hanya asal menyatukan nama dua orang itu. Menyatukannya dalam : Mu’awiyatu Al-laitsi :*

Kamis, 20 November 2014

The Script - The Man Who Can't Be Moved


Tak ada yang lebih elegan dari Coldplay, dan tak ada yang lebih menawan dari The script ;*

SYAIR TANPA NAMA



Dan ketika pada akhirnya kita telah tiba di satu titik tak bernama,
yang keberadaannya punya andil utama dalam hal porak porandanya alur hidup seseorang bernama manusia. 
Kadang tak ada yang tersisa dari raga yang hanya berembelkan sebuah nama.
Nama.
Nama.
Kemudian tak bernama.
Sama dengan titik yang dilewatinya.
Manusia tak bernama, menempuh jalan tak berjarak, dan sampai di suatu tempat tak bernama tak berpenghuni.
Manusia hanya lelah. 
Lelah menghindari satu fase dimana mereka tak mampu lebih dari sekedar bertahan hidup.
Sama halnya dengan gerakan jemari yang saling mengejar hanya untuk onggokan huruf bisu.
Kau boleh menyebutnya syair putus asa, yang tak pernah tahu akan bermuara dimana.
Kau juga boleh menyebutnya syair sia-sia, yang tak mengerti mengapa kau harus berhenti untuk singgah.
Hingga ketidakpastiannya membuatmu bergegas melihat ke belakang. Mencari namamu.

Rabu, 19 November 2014

Welcome Home Fanan ^^

Pagi ini ketika saya membawa secangkir susu hangat ke tepian jendela dan memandang jalanan Jakarta yang tak pernah bertemu kata tenang, tiba-tiba saya tertarik untuk duduk diam sebentar, meladeni sesuatu yang selama ini mulai memukulkan palu dalam kepala saya minta diberikan pencerahan. Sudah dua minggu lebih saya hanya memikirkan pegunungan hijau dan apa yang harus saya lakukan terhadap mata saya yang sangat merindukan warna hijau daun. Tak hanya rasa rindu kurasa, namun mata saya sungguh sangat kelaparan akan barisan pepohonan hijau itu! huft.

Ketika saya menyadari bahwa saya tak mungkin temukan itu disini (baca: pusat kota Jakarta) karena sesuatu yang bernama "kendala" berhasil membuat saya tak bisa kemana-mana. Daaan pada akhirnya situasi itu pagi ini membuat saya mulai duduk manis, menghirup secangkir susu hangat dan berpikir. Dan satu kata yang langsung terlintas dalam benak adalah : blog. kenapa saya tak mencoba membuat blog saja? bukankah selama menjalani masa frustasi akhir-akhir ini saya hanya toleransi semuanya dengan berbicara sendiri? ada kata-kata bijak yang tiba-tiba muncul, juga hanya saya gumamkan. ada ide, ada kalimat penghibur, ada kata pendorong kebahagiaan, juga tak tertuang dalam media apapun selain gumaman. kenapa tak mencoba untuk membuat blog? toh pada akhirnya saya perlu berpindah dari diary konvensional ke sesuatu yang berbau teknologi bukan? Sebanyak apapun saya bicara sendiri, sebanyak itu pula ide saya hilang. kali ini saya berpikir itu akan menjadi masalah serius (seserius mimpi saya untuk jadi penulis :D).

itu yang pertama. yang kedua, "hey Fanan, sepertinya anda sudah mulai tidak produktif" gumam kepalaku. haha. yup! begitulah. yang saya pelajari selama ini, ketika saya merasa hidup saya mulai kacau, itu artinya saya berada di kondisi "jauh dari Tuhan dan tak menulis". dan itulah yang terjadi sekarang. tempat yang bisa menampung tulisan saya, se amburadul apapun itu, ya hanya blog pribadi. jadi saya hanya ingin memulai untuk tak mengacaukan hidup yang sudah mulai kacau ini.  

yang ketiga, saya kok merasa kuno banget, udik, ketinggalan. memang iya, disaat semua orang sudah punya website dengan puluhan link terkait atau pembahasan hal-hal menarik yang sudah belasan page, saya baru akan membuat blog. baru akan! ah, tapi itu hanya perasaan saya saja.

sooooo.... welcome home Mu'awiyatu Al-laitsi... selama ini kamu hanya punya tiga rumah. tapi sepertinya blogger sudah bersedia menyewakan rumah baru untuk imajinasi dan kelakarmu, gratis!