PART I ( PENGANTAR ABAL-ABAL)
Baiklah, saya ingin mencoba menggambarkan 2 tokoh berpengaruh, namun sebelumnya biarkan saya menceritakan seseorang yang tidak begitu penting untuk diceritakan. Tapi tak apalah, setidaknya bisa jadi teman menikmati secangkir kopi pahit agar jadi tambah pahit. haha.
Dia
adalah seorang perempuan, berusia 23 tahun, yang menyandang begitu banyak
obsesi dalam hidupnya. Menjadi reporter, penyair, penulis, sutradara, penyanyi,
guru, pemain biola, dan entah apalagi. Tetapi lambat laun, banyak dari obsesinya
yang dia coret satu persatu. Ketika dia menyadari suaranya masih jauh dari kata
layak disaudarakan dengan istilah merdu (baca: fales), dia berpikir seribu kali
lagi untuk beranjak dari penyanyi kamar mandi. Atau ketika bahkan sampai usia
23 tahun dia tak pernah memegang satupun alat musik kecuali gitar, dia mencoba
melupakan biola. Atau juga ketika setamat SMA tak ada lagi pentas drama yang
bisa dia sutradarai, dicukupkannya sampai disana karena sepertinya untuk
menjadi sutradara sungguhan, tak sesederhana ketika membuat sebuah drama
berhasil. Toh, dia malah masuk akademi kebidanan ketimbang milih masuk sekolah
teater atau yang berbau-bau perfilm-an.
Dia
adalah perempuan plin plan. Setidaknya itu yang disuarakan 99% orang yang kenal
dengannya. Mulai dari memilih warna kesukaan, tokoh kebanggaan, film kesukaan,
jurusan sekolah, bahkan sampai memilih kepada siapa dia jatuh cinta. Ah, tidak
juga. Kurasa dia tidak se plin plan itu. Dia hanya agak sering kebingungan
saja, hingga kadang kebingungannya menimbulkan kekacauan dalam kepalanya
sendiri atau parahnya menyeret-nyeret orang lain untuk dia ajak bingung. Ya sudahlah,
intinya sama saja. Dia memang perempuan plin plan.
Ayahnya
pernah bilang, dia adalah perempuan petualang yang enggan berpikir jauh tentang
keuntungan dan kerugian perjalanannya. Sehingga acapkali dia memilih untuk
belok ke kiri dan lanjut meskipun tahu bahwa dia salah arah. Dia sungguh perlu
belajar membaca kompas, kurasa. Dia agak buta arah, yang ditakutkan adalah jika
terlalu jauh, bisa-bisa dia tak tahu jalan pulang.
Dia
adalah seorang perempuan, namun tak tertarik untuk ribet. Dia lebih memilih
keliling gramedia sendirian kemudian mampir ke foodcourt untuk membeli burger
atau apalah itu dan memakannya sendirian sambil memperhatikan kaki-kaki yang
lewat di depannya. Kadang, menyingkir dan duduk disebelah orang yang tak
neko-neko lebih dipilihnya daripada duduk beramai dan bercerita kosong yang
hanya menimbulkan suara gaduh. Sangat tidak pandai memulai sosialisasi namun lebih
tak pandai lagi untuk meninggalkan. Jika sudah terlanjur berteman, sampai
matipun akan tetap berteman. Namun kadang apa yang ada dalam kepalanya tak
selalu bertemu dengan apa yang ada dalam kepala temannya, sehingga akhirnya
tetap kata “sendiri” yang dipilihnya.
Tak
pernah mau bersahabat dengan pemoles bibir (baca: lipstik) dan mobil ber-AC. Jangankan
untuk memakai di bibir sendiri, untuk mencuci gelas setelah menjamu tamu jika
ada cap lipstik di permukaan gelas, dia tak akan sudi menyentuhnya. Berlebihan sekali
memang, tapi tak apalah. Kadang kita memang cenderung suka dan benci terhadap
hal yang agak kurang masuk akal. Bicara tentang mobil, sudah sepuluh tahun perempuan
itu berpetualang, namun tak mampu sembuhkan jet lag-nya. Akan ada waktu sakit
selama 3 hari setelah dia melakukan perjalanan kemanapun jika dengan mobil
mewah ber-AC. Lain cerita jika dengan mobil pick up, truk, metromini, dan
semacamnya. She loooovveee that so much. Haduh!
Bicara
tentang perempuan ini tak akan ada habisnya. Karena tidak bisa berakhir dengan
cerita tentang daughtry dan semua lagunya yang tak ada tandingan. Tiga jam
kemudian dia tiba-tiba sangat bersemangat bercerita tentang The script,
coldplay, atau Secondhand serenade. Mungkin itulah defenisi sebenarnya dari
kata “plinplan”. Dunianya adalah ketika dia duduk di tepian jendela, sore hari,
menulis apapun yang bisa ditulis, atau melahap puluhan volume maintatei conan,
belasan seri Sherlock holmes, puluhan cerpen AS Laksana, dan deretan pemusik
diatas melagu di telinganya. Atau, dia duduk diam saja disana, memandang apapun
yang bisa dipandang, dan menterjemahkannya ke dalam bentuk apapun sesukanya.
Imajinasinya
terlalu tinggi, sehingga tak anyak orang yang mampu menerima pun mengiringi. Terkadang,
dua tiga orang berkata langsung padanya bahwa apapun yang dikerjakannya tak
bertemu guna. Kuliah di kebidanan, namun lebih suka bicara tentang Sapardi
Djoko Damono dan kawan-kawan, tak ayal membuatnya di cap tenaga kesehatan
abal-abal. Sekolah tiada henti membuat orang menudingnya sebagai manusia tak
tentu tujuan. Mereka hanya tidak tahu bahwa dialah perempuan dengan segudang
obsesi di pundaknya. Aku percaya, dia bisa lakukan semua itu. Aku, sebagai
orang yang paling mengenalnya, sangat yakin bahwa dia tak selalu plin plan. Ada
saatnya dia tahu ini baik untuknya dan ini buruk. Setidaknya, ada dua orang
paling berpengaruh dengan watak berbeda yang disematkan ayahnya dalam namanya. Dua
orang yang perlu dia tekuni riwayatnya, karena ayahnya tak hanya asal
menyatukan nama dua orang itu. Menyatukannya dalam : Mu’awiyatu Al-laitsi :*