Biarkan
aku sedikit bercerita tentangmu, mungkin tentang kita. Mungkin juga tentang
sesuatu yang tanpa disadari telah dimulai pada suatu hari bertahun-tahun silam.
Hari itu mengatakan bahwa mentari masih menggeliat belum sepenuhnya sedia
membuka mata. Kita menyebutnya hari bersantai, karena kitalah segelintir siswa
yang enggan ikut olimpiade sains
ibukota dengan segudang pertimbangan pribadi (baca: kendala dana) dan alhasil
mendapat anugerah untuk bersantai di asrama. Kenapa anugerah? Terkadang jam
belajar bagi siswa sekolah menengah memang agak sedikit melelahkan. A little bit! J
Hari
itu, delapan tahun yang lalu, kita merasa sedikit aneh ketika lewat pukul sembilan
bumi mulai menunjukkan tanda-tanda kurang bersahabat. Awalnya bergoyang pelan,
itu hal yang biasa terjadi di kawasan barat pulau sumatera ini. Kemudian bergoyang
kembali, sedikit lebih keras. Naluri dan logika kita mulai terusik dan sesegera
mungkin mengambil keputusan untuk lari tunggang langgang mencari tempat yang
lapang dan aman sebelum goncangan lebih besar yang lain menyusul.
Gempa.
Seolah jadi sajian rutin warga Sumatera Barat. Saban tahun sedikit goyangan
akan memberi sapaan ringan. Namun kali ini agak sedikit berbeda sepertinya. Kita
berlari keluar gerbang asrama dan memutuskan untuk singgah digedung TK depan
asrama. Bisakah kusebut bahwa saat itu takdir untukmu baru saja dimulai? Aku selalu
tersenyum mengingatnya.
Entah
dari siapa instruksi untuk mengarahkan padangan ke rumah itu berasal. Rumah mungil
yang diapit bangunan Poliklinik dan Laboratorium Komputer yang keduanya milik
sekolah kami. Tidak ada yang tahu mengapa rumah itu menjadi satu-satunya yang
bertahan disekeliling pekarangan yang mayoritas sudah menjadi hak milik
perguruan puteri terbesar di Sumatera Barat ini. Entahlah. Sebelumnya, rumah itu
terlalu sunyi untuk dijadikan pusat perhatian. Penghuninya jarang terlihat. Hanya
seorang ibu yang setiap pagi terlihat berjalan menyandang tas dengan seragam
khas para guru, dan seorang ayah yang sering bersantai di ruang depan. Anak-anak
mereka? Itulah kemudian yang menjadi sebuah pertanyaan. Dan jawabannya kita
temukan hari itu. Hari bersejarah untuk masyarakat Padang Panjang tentang
sebuah cerita sedih bertema bencana alam dan musibah.
Namun
hikmah buatmu, ada di hari ini, 03 April 2015. Ketika kau kenakan gaun
pilihanmu dan bersimpuh menyaksikan ayahmu menjabat erat tangan seorang pemuda
dan dengan mantap menyerahkan amanah untuk menjagamu selamanya. Dan pemuda itu,
terlihat lebih mantap dari yang kau bayangkan sebelumnya. Ya, hari ini akad
untukmu digelar. Pengucapan lafaz yang tak hanya sekedar lafaz yang hilang
terhembus angin. Janji. Sumpah setia. Untuk tak sendiri lagi menghamba
pada-Nya, pemilik diri, namun telah ada yang mengiringi. Hari ini pernikahanmu.
Hari bersejarahmu untuk yang kesekian kalinya. Dan mungkin sepuluh tahun
kemudian Kau akan dipaksa oleh puterimu untuk menyusun kalimat mendengar
pertanyaan manisnya:
“Kapan
Ibu pertama kali bertemu Ayah?”
Mungkin
kau akan membelai rambut ikalnya dan tersenyum sebelum menjawab dengan satu
kumpulan kalimat : Ibu melihatnya ada
bersama musibah mengerikan. Gempa bumi 20 tahun yang lalu. Ayahmu ada diantara
kepulan debu bangunan yang retak dan jeritan banyak orang. Tuhan mengirimkan
Ayah bersama musibah yang kadang memang perlu disyukuri. Tak semua musibah
menyandang arti bencana, namun kadang terselip berkah yang tak terhingga. Saat itu
ibu melihatnya, dengan seragam sekolah yang masih melekat, dan ibu putuskan
untuk tetap melihatnya. Pemuda yang tak banyak bicara, dan sepertinya tak
banyak ulah. Kau tahu apa yang kemudian ibu lakukan? Ibu berdoa. Ya, ibu hanya
lakukan hal sederhana itu. Berdoa. Doa ibu dijawab Allah ketika beberapa tahun
kemudian Ibu kembali bertemu karena kuliah di kota yang sama.
Kemudian
Kau lihat gadis kecilmu mengerjap riang, dan menyambung pertanyaan pertamanya
dengan ratusan pertanyaan lain:
“Ibu
sayang pada Ayah?”
Kau
mengangguk mantap.
“Sejak
kapan?”
Kau
tersenyum.
“Sejak
Ibu putuskan untuk tak ikut Olimpiade”. (*)
Jakarta Selatan, 03 April 2015
Untukmu, sahabat paling cerewet
anugerah Tuhan, Ressa Vernanda :D
Selamat membuka lembaran baru,
berterimakasihlah padaku karena saat itu aku yang menyeretmu berlindung ke
teras gedung TK yang mungil itu delapan tahun yang lalu dan memberitahumu bahwa
di seberang sana ada pemandangan yang mampu mencetak sejarah. Hehe..
Semoga kebahagiaanmu lengkap, karena
hidupmu mulai lengkap, tetaplah istiqamah merengkuh dan mencintai Tuhan, karena
dengan rahmatNya kalian berdua dipertemukan. Doakan aku segera menyusul :D
Barokallahulakuma wa baroka ‘alaikuma
wa jama’a bainakuma fii khoiri…