Selasa, 31 Maret 2015

NAMA DISEBALIK SEBUAH NAMA; PART II




Saat duduk di tahun ke-empat sekolah dasar, saya baru menyadari bahwa nama yang diberikan ayah agak sedikit aneh. Saya tahu itu karena setiap guru yang mengabsen selalu mengeja dengan agak terbata ketika sampai pada baris kesekian dimana nama saya berdiam manis. Saya tanyakan pada ayah “Mengapa namaku aneh?” beliau jawab “Bukan aneh, nama kamu bagus. Seorang ayah harus berikan anaknya nama yang bagus”. Saya, sebagai seorang gadis kecil berkucir kuda saat itu hanya bisa membulatkan mulut dan kembali sibuk bermain.
Di tahun keenam, pertanyaanku muncul kembali, “Namaku artinya apa?” ayah menjawab, “Ada nama orang hebat dalam namamu”. Semakin usia bertambah, pertanyaan itu juga semakin berkembang. “Siapa orang hebat dalam namaku?” Ayah masih menjawab sederhana “Muawiyah dan Al-Laits”, kulanjutkan kembali dengan pertanyaan “Siapakah Muawiyah?” Beliau hanya tersenyum dan mengacak poniku. “Rajinlah baca buku” Ujarnya singkat. Sangat singkat. Saat itu, saya merasa tak terlalu penting mengetahui siapa mereka. Dan benar, yang saya lakukan hanya mengendikkan bahu dan menyimpan pertanyaan itu.
Keinginan besar untuk mencari tahu muncul disaat saya duduk di bangku SMA. Setiap guru dan beberapa orang yang baru saya temui selalu menanyakan arti nama saya. Saya tanyakan pada guru sejarah kebudayaan islam, buku apa yang harus saya baca untuk mengenal tokoh dalam bayangan nama saya. Perlahan, sedikit banyak saya bisa menjawab pertanyaan orang lain, dan mengerti bahwa seorang ayah memang harus memberikan nama yang baik untuk anaknya, salah satu nama itu, Mu'awiyatu al-Laitsi.

Muawiyah Bin Abu Sofyan
Siapa yang tak kenal Muawiyah bin Abi Sofyan, pendiri dinasti Umayyah yang lekat dengan kata ambisius. Jika tak begitu mengenalnya, mungkin dapat dikaitkan dengan peristiwa Fathul Makkah, penaklukan kota Makkah oleh Rasulullah SAW. Pada saat itu Muawiyah masuk Islam bersama ayahnya, Abu Sofyan. Setelah keislamannnya, ia mendapat kepercayaan dari Rasulullah SAW. untuk menjadi penulis wahyu. Jabatan ini diberikan kepadanya, karena Rasulullah SAW. melihat potensi dan kemampuan menulis dan membaca yang dimilikinya yang perlu dihargai dan dikembangkan untuk kepentingan pengembangan Islam. Karena pada saat itu, sedikit sekali orang Arab yang memiliki kemampuan membaca dan menulis. Dari sinilah kemudian posisi Muawiyah menjadi semakin penting di dalam kehidupan sosial keagamaan dan politik ketika itu.
Hal tersebut membuat saya mulai memikirkan satu hal, bahwa membaca dan menulis mempunyai aura telepati yang mampu mengikat segala hal. Keberhasilan seseorang contohnya, apapun bidangnya akan dinafasi oleh sebanyak apa seseorang mau membaca dan rajin menulis. Saya tahu, Ayah ingin saya menjadi pribadi yang rajin membaca, kemudian mengikatnya dalam tulisan, dan mengutarakannya dengan teratur sebagaimana teraturnya kalimat itu ketika dituangkan dalam sebuah tulisan. Satu poin telah saya mengerti.
Awal meniti karier dalam dunia pemerintahan, Muawiyah menjadi pemimpin pasukan tambahan untuk menaklukkan kota Syams di masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar As-Shidiq, hingga pada akhirnya mampu menaklukkan kota-kota di utara, seperti Sidon, Beirut, dan lain sebagainya.  Diangkat menjadi gubernur Syiria (Yordania) ketika khalifah Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah, membuat kepemimpinan Muawiyah semakin cemerlang. Hingga akhirnya Muawiyah memutuskan untuk menggabungkan wilayah kekuasaan Syiria dan Damaskus (yang waktu itu dipimpin oleh saudaranya, Yazid bin Abi Sofyan), untuk menjadikannya Dinasti Bani Umayyah, dan penggabungan ini disetujui khalifah Umar bin Khattab, karena mengetahui benar bahwa Muawiyah akan mampu menjalankan roda pemerintahan di wilayah tersebut.
Muawiyah Bin Abu Sofyan, di dalam dirinya terkumpul sifat-sifat penguasa, politikus dan administrator. Kepandaiannya bergaul dengan berbagai temperamen dan watak manusia, membuat dirinya mampu menghimpun pendukung dan merangkul wilayah-wilayah besar dan menguasainya. Muawiyah yang ambisius, Muawiyah yang kuat membangun karakter dan menjaga karakternya itu, Muawiyah yang selalu percaya dengan dirinya.  Yang bisa saya garis bawahi dari semua lakon hidupnya, terlepas dari ambisi berkuasa berbumbu kebengisan yang menjadi dominan, adalah kerja keras. Disebalik apapun yang menjadikan orang hanya mengenal kekerasannya, saya membaca dengan jelas  semangatnya dalam mengusahakan sesuatu. Optimis, visioner, berkemauan keras, dan pantang menyerah, membuat seseorang tangguh menghadapi dunia.

Imam al-Laits
Imam Al-Laits adalah ahli hadits dan fiqh yang hidup satu masa dengan Imam Malik. Keduanya sering saling berkirim surat yang membicarakan seputar hadits, fiqih dan fatwa. Imam al-Laits juga dikenal sebagai dermawan yang banyak memberi bantuan kepada orang lain. Imam Syafi’i, ketika datang ke Mesir dan berziarah ke kubur beliau, berkata, “Tidak ada yang lebih menyedihkanku dari kehilangan Ibnu Abi Dzi’b dan Laits bin Sa’ad”. Imam Syafi’i sedih karena tidak sempat bertemu Imam Al-Laits dan berguru kepadanya.
Dalam sejarahnya, Imam Al-Laits adalah ulama yang sepanjang hidupnya telah mengumpulkan empat sifat yang tidak dimiliki ulama lainnya: ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan. Kebetulan Imam Al-Laits memang mendapatkan anugerah kekayaan melimpah dari Allah SWT. Dalam sebuah riwayat diceritakan, pendapatannya pertahun tak kurang dari 100.000 dinar. Hebatnya, Imam al-Laits tidak pernah berkewajiban mengeluarkan zakat, sebab sebelum mencapai satu tahun (haul) pemasukan yang ia peroleh itu telah habis ia infaqkan dan sedekahkan.
Empat sifat yang dimiliki Imam Al-laits saya rasa memang harus dijadikan teladan. Ilmu adalah rezeki yang harus dicari dan diusahakan, amal adalah ladang tempat kita menanam dan menuai ilmu. Zuhud dalam melakoni hidup, menyuburkan ilmu dengan amalan yang menetas ribuan manfaat, mencukupkan Allah dalam jiwa, serta mendermakan kelebihan apapun dari anugerah yang Allah beri, sejatinya menjadikan kita hamba yang tak hanya hidup, namun menjernihkan dunia yang dijadikan tempat bersingggah dari perjalanan dengan tujuan besar; Surga.
Seraya memejamkan mata, saya mengerti bahwa jika keteladanan itu akan sepenuhnya terangkul jika memang ada usaha untuk mempelajarinya. “Banyaklah membaca, maka kau akan mengenal dirimu”. Selanjutnya, satu pertanyaan lagi Ayah, “Saya adalah anak perempuanmu, mengapa engkau menggabungkan dua nama Tokoh Islam berjenis kelamin laki-laki untuk berdiam manis dalam namaku?”(*)

2 komentar:

  1. Wah namanya keren terinspirasi dari tokoh2 muslim yang luar biasa . Mudah2 an bisa memberikan barakah dan semangat tersendiri dalam meneruskan perjuangan mereka.

    BalasHapus
  2. Aamiin, meskipun kita masih kalah jauuuuhhh dari para tokoh itu, teladannya yang dicari dan dipedomani kan mba nenshi, hehe... :D

    BalasHapus