Saat duduk di tahun ke-empat
sekolah dasar, saya baru menyadari bahwa nama yang diberikan ayah agak
sedikit aneh. Saya tahu itu karena setiap guru yang mengabsen selalu mengeja
dengan agak terbata ketika sampai pada baris kesekian dimana nama saya berdiam
manis. Saya tanyakan pada ayah “Mengapa namaku aneh?” beliau jawab “Bukan aneh,
nama kamu bagus. Seorang ayah harus berikan anaknya nama yang bagus”. Saya, sebagai seorang
gadis kecil berkucir kuda saat itu hanya bisa membulatkan mulut dan kembali
sibuk bermain.
Di tahun keenam, pertanyaanku
muncul kembali, “Namaku artinya apa?” ayah menjawab, “Ada nama orang hebat
dalam namamu”. Semakin usia bertambah, pertanyaan itu juga semakin berkembang. “Siapa
orang hebat dalam namaku?” Ayah masih menjawab sederhana “Muawiyah dan Al-Laits”,
kulanjutkan kembali dengan pertanyaan “Siapakah Muawiyah?” Beliau hanya
tersenyum dan mengacak poniku. “Rajinlah baca buku” Ujarnya singkat. Sangat singkat.
Saat itu, saya merasa tak terlalu penting mengetahui siapa mereka. Dan benar, yang
saya lakukan hanya mengendikkan bahu dan menyimpan pertanyaan itu.
Keinginan besar untuk mencari tahu
muncul disaat saya duduk di bangku SMA. Setiap guru dan beberapa orang yang
baru saya temui selalu menanyakan arti nama saya. Saya tanyakan pada guru
sejarah kebudayaan islam, buku apa yang harus saya baca untuk mengenal tokoh dalam
bayangan nama saya. Perlahan, sedikit banyak saya bisa menjawab pertanyaan
orang lain, dan mengerti bahwa seorang ayah memang harus memberikan nama yang
baik untuk anaknya, salah satu nama itu, Mu'awiyatu al-Laitsi.
Muawiyah
Bin Abu Sofyan
Siapa yang tak kenal Muawiyah bin
Abi Sofyan, pendiri dinasti Umayyah yang lekat dengan kata ambisius. Jika tak
begitu mengenalnya, mungkin dapat dikaitkan dengan peristiwa Fathul Makkah, penaklukan kota Makkah
oleh Rasulullah SAW. Pada saat itu Muawiyah masuk Islam bersama ayahnya, Abu
Sofyan. Setelah keislamannnya, ia mendapat kepercayaan dari Rasulullah SAW. untuk menjadi penulis wahyu. Jabatan ini diberikan kepadanya, karena Rasulullah SAW. melihat potensi dan kemampuan menulis dan membaca yang dimilikinya yang
perlu dihargai dan dikembangkan untuk kepentingan pengembangan Islam. Karena
pada saat itu, sedikit sekali orang Arab yang memiliki kemampuan membaca dan
menulis. Dari sinilah kemudian posisi Muawiyah menjadi semakin penting di dalam
kehidupan sosial keagamaan dan politik ketika itu.
Hal tersebut membuat saya mulai
memikirkan satu hal, bahwa membaca dan menulis mempunyai aura telepati yang
mampu mengikat segala hal. Keberhasilan seseorang contohnya, apapun bidangnya
akan dinafasi oleh sebanyak apa seseorang mau membaca dan rajin menulis. Saya tahu, Ayah ingin saya menjadi pribadi yang rajin membaca, kemudian mengikatnya dalam
tulisan, dan mengutarakannya dengan teratur sebagaimana teraturnya kalimat itu
ketika dituangkan dalam sebuah tulisan. Satu poin telah saya mengerti.
Awal meniti karier dalam dunia
pemerintahan, Muawiyah menjadi pemimpin pasukan tambahan untuk menaklukkan kota Syams di masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar As-Shidiq, hingga pada akhirnya
mampu menaklukkan kota-kota di utara, seperti Sidon, Beirut, dan lain
sebagainya. Diangkat menjadi gubernur Syiria
(Yordania) ketika khalifah Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah, membuat
kepemimpinan Muawiyah semakin cemerlang. Hingga akhirnya Muawiyah memutuskan
untuk menggabungkan wilayah kekuasaan Syiria dan Damaskus (yang waktu itu dipimpin
oleh saudaranya, Yazid bin Abi Sofyan), untuk menjadikannya Dinasti Bani
Umayyah, dan penggabungan ini disetujui khalifah Umar bin Khattab, karena
mengetahui benar bahwa Muawiyah akan mampu menjalankan roda pemerintahan di
wilayah tersebut.
Muawiyah Bin Abu Sofyan, di dalam
dirinya terkumpul sifat-sifat penguasa, politikus dan administrator.
Kepandaiannya bergaul dengan berbagai temperamen dan watak manusia, membuat
dirinya mampu menghimpun pendukung dan merangkul wilayah-wilayah besar dan
menguasainya. Muawiyah yang ambisius, Muawiyah yang kuat membangun karakter dan
menjaga karakternya itu, Muawiyah yang selalu percaya dengan dirinya. Yang bisa saya garis bawahi dari semua lakon
hidupnya, terlepas dari ambisi berkuasa berbumbu kebengisan yang menjadi dominan,
adalah kerja keras. Disebalik apapun yang menjadikan orang hanya mengenal kekerasannya,
saya membaca dengan jelas semangatnya
dalam mengusahakan sesuatu. Optimis, visioner, berkemauan keras, dan pantang menyerah, membuat seseorang tangguh menghadapi dunia.
Imam
al-Laits
Imam Al-Laits adalah ahli hadits
dan fiqh yang hidup satu masa dengan Imam Malik. Keduanya sering saling
berkirim surat yang membicarakan seputar hadits, fiqih dan fatwa. Imam al-Laits
juga dikenal sebagai dermawan yang banyak memberi bantuan kepada orang lain.
Imam Syafi’i, ketika datang ke Mesir dan berziarah ke kubur beliau, berkata,
“Tidak ada yang lebih menyedihkanku dari kehilangan Ibnu Abi Dzi’b dan Laits
bin Sa’ad”. Imam Syafi’i sedih karena tidak sempat bertemu Imam Al-Laits dan
berguru kepadanya.
Dalam sejarahnya, Imam Al-Laits
adalah ulama yang sepanjang hidupnya telah mengumpulkan empat sifat yang tidak
dimiliki ulama lainnya: ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan. Kebetulan Imam
Al-Laits memang mendapatkan anugerah kekayaan melimpah dari Allah SWT. Dalam
sebuah riwayat diceritakan, pendapatannya pertahun tak kurang dari 100.000
dinar. Hebatnya, Imam al-Laits tidak pernah berkewajiban mengeluarkan zakat, sebab
sebelum mencapai satu tahun (haul) pemasukan yang ia peroleh itu telah habis ia
infaqkan dan sedekahkan.
Empat sifat yang dimiliki Imam
Al-laits saya rasa memang harus dijadikan teladan. Ilmu adalah rezeki yang
harus dicari dan diusahakan, amal adalah ladang tempat kita menanam dan menuai
ilmu. Zuhud dalam melakoni hidup, menyuburkan ilmu dengan amalan yang menetas
ribuan manfaat, mencukupkan Allah dalam jiwa, serta mendermakan kelebihan
apapun dari anugerah yang Allah beri, sejatinya menjadikan kita hamba yang tak
hanya hidup, namun menjernihkan dunia yang dijadikan tempat bersingggah dari
perjalanan dengan tujuan besar; Surga.
Seraya memejamkan mata, saya
mengerti bahwa jika keteladanan itu akan sepenuhnya terangkul jika memang ada
usaha untuk mempelajarinya. “Banyaklah membaca, maka kau akan mengenal dirimu”. Selanjutnya, satu pertanyaan lagi Ayah, “Saya adalah
anak perempuanmu, mengapa engkau menggabungkan dua nama Tokoh Islam berjenis
kelamin laki-laki untuk berdiam manis dalam namaku?”(*)
Wah namanya keren terinspirasi dari tokoh2 muslim yang luar biasa . Mudah2 an bisa memberikan barakah dan semangat tersendiri dalam meneruskan perjuangan mereka.
BalasHapusAamiin, meskipun kita masih kalah jauuuuhhh dari para tokoh itu, teladannya yang dicari dan dipedomani kan mba nenshi, hehe... :D
BalasHapus