Rabu, 01 April 2015

SEE YOU AGAIN, PAUL WALKER



Sesungguhnya saya juga tak ingin menamakan tulisan ini sebuah resensi atau review mengenai baik buruknya seri ke-7 dari franchise fast furious ini. Banyak alasan. Pertama, saya memang bukan ahli kritikus film. Kedua, saya belum pernah benar-benar membuat resensi film kecuali hanya dalam kepala saya. Ketiga, film ini adalah film yang tak perlu kritikan. Sejauh apapun dikaji kelebihan dan kelemahan proses penyajiannya, film ini tetap akan menghadirkan penonton yang membludak dan mengalirkan omset tinggi di setiap musimnya.
Hari ini, 1 April 2015 merupakan pemutaran perdana Fast & Furious 7.  Ketika melangkah masuk ke gedung bioskop, saya sudah membayangkan apa yang akan terjadi. Antrian pembeli tiket masuk, dan barisan kursi belakang yang akan jadi rebutan. Saya cukup beruntung masih kebagian tiket dan mendapat posisi duduk deretan paling atas. Saat film dimulai, saya sudah bersiap dengan kemungkinan bahwa film ini akan menjadi ajang ‘mengurai air mata’. Saya cukup sentimentil memang, dan entah mengapa, Paul Walker membuat kesentimentilan saya semakin menjadi.
Fast & Furious 7, bisa merupakan ajang memorable dan ziarah secara tidak langsung. Salah satu pemeran utamanya, Paul Walker meninggal dalam kecelakaan tragis November 2013 yang lalu. Seluruh dunia tak menangisinya karena proses syutingnya yang belum selesai, namun lebih dari itu. Tak banyak yang begitu mengenal sosok Paul Walker selain pribadinya yang diam, tak banyak ulah, tak pernah tersandung skandal pun masalah, tak pernah bertengger manis di majalah-majalah hollywod yang menceritakan ‘kenakalan’nya, namun lebih pada kesuksesannya dan konsistensinya dalam kesederhanaan.  Kehadiran film ini, merupakan upaya mengingat, mengenang, seolah memutar kembali scene demi scene kehidupan Brian O’Connor yang diperankan Paul Walker yang akhirnya hanya berhenti sampai disini.
Jelas, seperti biasa, ciri khas dari film ini seperti adegan kejar-kejaran mobil, pertunjukan mobil-mobil balap yang luar biasa, baku hantam, para wanita cantik nan perkasa, para laki-laki kekar yang hidup keras namun sayang keluarga, dan kesan film Hollywood bahwa “Jagoan tak boleh mati” tetap melekat. Namun penonton akan mendapat suguhan istimewa berupa ending yang benar-benar mengharukan. Kerja keras para kru film memang perlu diacungi jempol, kehadiran Paul Walker tetap ada, meskipun dengan kombinasi teknologi CGI dan body doubles yang terbilang jitu. Paul Walker tetap “hidup” sampai akhir film. Tetapi bagi saya pribadi, semakin melihat peran yang dia mainkan, semakin mengingatkan saya bahwa Paul tetap telah tiada.
Semenjak dahulu, saya begitu mencintai musik dan apapun peristiwa yang terjadi ketika musik itu dimainkan. Kali ini, Wiz Khalifa benar-benar membuat saya trenyuh tanpa akhir. Pun ketika lampu bioskop telah dihidupkan tanda pertunjukan film selesai, atau ketika perjalanan pulang, atau ketika telah saya dapatkan lagu itu saat sampai di rumah. Salah satu single nya berjudul “See You Again” yang menjadi original soundtrack film ini membuat kesedihan saya tanpa ujung (sedikit lebay mungkin). Namun memang benar, pikiran saya jadi melayang dan teringat banyak hal. Memang, seseorang yang minim ulah dan terkesan diam, terkadang punya tempat tersendiri dalam kenangan orang banyak. Meskipun kita sendiri tak begitu jauh mengenalnya. Istirahatlah Paul, semoga ketenanganlah yang Kau temui dimanapun Kau kini. Let the light guide your way.

Its been a long day without you my friend and I’ll tell you all about it when I see you again.
Jakarta Selatan, 1 April 2015.