Kamis, 02 April 2015

UNTUK HARI INI; KARENA HARI ITU



Biarkan aku sedikit bercerita tentangmu, mungkin tentang kita. Mungkin juga tentang sesuatu yang tanpa disadari telah dimulai pada suatu hari bertahun-tahun silam. Hari itu mengatakan bahwa mentari masih menggeliat belum sepenuhnya sedia membuka mata. Kita menyebutnya hari bersantai, karena kitalah segelintir siswa yang enggan ikut olimpiade sains ibukota dengan segudang pertimbangan pribadi (baca: kendala dana) dan alhasil mendapat anugerah untuk bersantai di asrama. Kenapa anugerah? Terkadang jam belajar bagi siswa sekolah menengah memang agak sedikit melelahkan. A little bit! J
Hari itu, delapan tahun yang lalu, kita merasa sedikit aneh ketika lewat pukul sembilan bumi mulai menunjukkan tanda-tanda kurang bersahabat. Awalnya bergoyang pelan, itu hal yang biasa terjadi di kawasan barat pulau sumatera ini. Kemudian bergoyang kembali, sedikit lebih keras. Naluri dan logika kita mulai terusik dan sesegera mungkin mengambil keputusan untuk lari tunggang langgang mencari tempat yang lapang dan aman sebelum goncangan lebih besar yang lain menyusul.
Gempa. Seolah jadi sajian rutin warga Sumatera Barat. Saban tahun sedikit goyangan akan memberi sapaan ringan. Namun kali ini agak sedikit berbeda sepertinya. Kita berlari keluar gerbang asrama dan memutuskan untuk singgah digedung TK depan asrama. Bisakah kusebut bahwa saat itu takdir untukmu baru saja dimulai? Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Entah dari siapa instruksi untuk mengarahkan padangan ke rumah itu berasal. Rumah mungil yang diapit bangunan Poliklinik dan Laboratorium Komputer yang keduanya milik sekolah kami. Tidak ada yang tahu mengapa rumah itu menjadi satu-satunya yang bertahan disekeliling pekarangan yang mayoritas sudah menjadi hak milik perguruan puteri terbesar di Sumatera Barat ini. Entahlah. Sebelumnya, rumah itu terlalu sunyi untuk dijadikan pusat perhatian. Penghuninya jarang terlihat. Hanya seorang ibu yang setiap pagi terlihat berjalan menyandang tas dengan seragam khas para guru, dan seorang ayah yang sering bersantai di ruang depan. Anak-anak mereka? Itulah kemudian yang menjadi sebuah pertanyaan. Dan jawabannya kita temukan hari itu. Hari bersejarah untuk masyarakat Padang Panjang tentang sebuah cerita sedih bertema bencana alam dan musibah.
Namun hikmah buatmu, ada di hari ini, 03 April 2015. Ketika kau kenakan gaun pilihanmu dan bersimpuh menyaksikan ayahmu menjabat erat tangan seorang pemuda dan dengan mantap menyerahkan amanah untuk menjagamu selamanya. Dan pemuda itu, terlihat lebih mantap dari yang kau bayangkan sebelumnya. Ya, hari ini akad untukmu digelar. Pengucapan lafaz yang tak hanya sekedar lafaz yang hilang terhembus angin. Janji. Sumpah setia. Untuk tak sendiri lagi menghamba pada-Nya, pemilik diri, namun telah ada yang mengiringi. Hari ini pernikahanmu. Hari bersejarahmu untuk yang kesekian kalinya. Dan mungkin sepuluh tahun kemudian Kau akan dipaksa oleh puterimu untuk menyusun kalimat mendengar pertanyaan manisnya:
“Kapan Ibu pertama kali bertemu Ayah?”
Mungkin kau akan membelai rambut ikalnya dan tersenyum sebelum menjawab dengan satu kumpulan kalimat : Ibu melihatnya ada bersama musibah mengerikan. Gempa bumi 20 tahun yang lalu. Ayahmu ada diantara kepulan debu bangunan yang retak dan jeritan banyak orang. Tuhan mengirimkan Ayah bersama musibah yang kadang memang perlu disyukuri. Tak semua musibah menyandang arti bencana, namun kadang terselip berkah yang tak terhingga. Saat itu ibu melihatnya, dengan seragam sekolah yang masih melekat, dan ibu putuskan untuk tetap melihatnya. Pemuda yang tak banyak bicara, dan sepertinya tak banyak ulah. Kau tahu apa yang kemudian ibu lakukan? Ibu berdoa. Ya, ibu hanya lakukan hal sederhana itu. Berdoa. Doa ibu dijawab Allah ketika beberapa tahun kemudian Ibu kembali bertemu karena kuliah di kota yang sama.
Kemudian Kau lihat gadis kecilmu mengerjap riang, dan menyambung pertanyaan pertamanya dengan ratusan pertanyaan lain:
“Ibu sayang pada Ayah?”
Kau mengangguk mantap.
“Sejak kapan?”
Kau tersenyum.
“Sejak Ibu putuskan untuk tak ikut Olimpiade”. (*)


         Jakarta Selatan, 03 April 2015


Untukmu, sahabat paling cerewet anugerah Tuhan, Ressa Vernanda :D
Selamat membuka lembaran baru, berterimakasihlah padaku karena saat itu aku yang menyeretmu berlindung ke teras gedung TK yang mungil itu delapan tahun yang lalu dan memberitahumu bahwa di seberang sana ada pemandangan yang mampu mencetak sejarah. Hehe..
Semoga kebahagiaanmu lengkap, karena hidupmu mulai lengkap, tetaplah istiqamah merengkuh dan mencintai Tuhan, karena dengan rahmatNya kalian berdua dipertemukan. Doakan aku segera menyusul :D
Barokallahulakuma wa baroka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoiri…


CERBUNG: RIMBO LANDAI



PART I
Aku tersentak mendengar lengkingan khas dari handphone ku dan bergegas mencari sumber suara yang sangat tidak membuat telinga nyaman itu. Aku memang sengaja memilih nada norak untuk alarm ku, karena rasa tidak nyaman di telinga pasti akan membuatku langsung terbangun untuk mematikannya.
Sudah pukul 03.00 dini hari!
Aku mengedarkan pandangan. Sudah berapa lamakah aku tertidur telungkup di depan laptop? Minggu ini aku benar-benar harus tunggang langgang dikejar deadline. Hingga untuk tidurpun tak biasa kunikmati dengan sempurna. Setengah enggan ku usap wajahku dan beringsut keluar kamar menuju dapur. Mendadak tenggorokanku sangat kering rasanya. Ku buka lemari pendingin di dapur, kuambil sekaleng jus lychee dan langsung menenggaknya setengah bagian. Ketika akan kembali ke kamar untuk memulai jadwal harian pukul 03.00 ku; menulis, kulihat pintu kamar kakakku agak sedikit terbuka dengan nyala lampu yang terang benderang. Tumben Kak Raya jam segini sudah bangun? Perasaanku mengatakan aku harus mendekati kamar itu. Mendadak jantungku berdegub keras saat kuraih hendel pintunya dan kudorong untuk membukanya. Aku terkesiap melihat betapa berantakannya kamar itu dan satu kenyataan yang harus kuhadapi: kakakku tak ada di kamarnya!

***