Sabtu, 23 Mei 2015

#RESUMEBACAAN02



BULAN NARARYA

RESENSI BACAAN MINGGU INI
OLEH : MU’AWIYATU AL LAITSI

Judul               : Bulan Nararya
Penulis             : Sinta Yudisia
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Tebal               : 256 hal
Genre              : Fiksi
Terbit               : September 2014
ISBN               : 9786021614334

Novel ini meraih penghargaan sebagai Juara ketiga Kategori Novel  dalam ajang bergengsi, Kompetisi Tulis Nusantara yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Saya sangat mengenal betul ajang kompetisi ini. Sebagai peserta yang telah tiga kali berpartisipasi, dan Alhamdulillah ketiga-tiganya memilih bersikap rendah hati dengan membiarkan naskah lain yang lolos jadi pemenang, saya tahu betul tulisan seperti apa yang diharapkan para juri. Naskah berlatar kultur daerah dengan lokalitas yang kental sudah pasti akan langsung dilirik sebagai nominator juara. Ekspektasi pertama saya ketika melihat desain cover dan pemilihan judul yang sangat eksotis dari novel ini kurang lebih sama dengan bayangan cerita khas berlatar budaya yang kuat. Namun tebakan saya tidak sepenuhnya salah, novel ini juga banyak menggambarkan beberapa tempat di Indonesia yang mencerminkan keindahan nusantara.  Ada kota Palu dengan keelokan Pantai Talise, ada kemegahan Jembatan Suramadu, juga beberapa kuliner khas nusantara.  Namun bukan itu yang menjadi poin utamanya. Bulan Nararya adalah novel psikologi yang sangat kuat.

Tokoh sentral dari novel ini adalah Nararya, atau biasa dipanggil Rara. Seorang therapis di sebuah klinik kesehatan mental milik Bu Sausan yang menyahabatkan diri dengan para pasien yang tinggal di klinik itu. Diantaranya, Yudhistira, laki-laki pengidap skizofrenia yang gemar melukis. Gangguan kejiwaan padanya diduga diperparah oleh pola pengasuhan sejak kecil. Yudhistira yang hidup di bawah bayangan otoritas dan pengekangan dari ibu dan ketiga kakak perempuannya. Hidupnya diproteksi ketat oleh para wanita terdekatnya, bahkan sampai dia berumah tanggapun, ibunya masih memberikan sokongan materi untuknya. Ketika beristerikan Diana, keadaan makin membuatnya tertekan. Diana adalah perempuan mandiri, keras kepala dan menolak segala bentuk dukungan materil dari keluarga mertuanya. Pada akhirnya yang terjadi hanyalah pertengkaran karena pergumulan sifat kontradiktif dari wanita-wanita di sekelilingnya.

Ada juga Pak Bulan, lelaki mantan residivis yang gemar menatap bulan berlama-lama, dan dibuang oleh lembaga pemasyarakatan. Kemudian Sania, gadis kecil yang dilahirkan oleh ibu perokok yang suka gonta ganti pasangan, memiliki ayah pemabuk dan dibesarkan oleh nenek yang pemukul. Sania tumbuh menjadi gadis kecil yang hanya bisa mengenyam pendidikan sampai kelas 2 SD, dan kondisi tubuh yang penuh jejak kekerasan serta sangat kurang gizi.

Disamping persoalan penghuni klinik tersebut, sebenarnya Rara juga mengalami konflik yang sama beratnya. Bersuamikan Angga, laki-laki penuh pesona yang punya kelebihan magnet dalam auranya. Sehingga banyak wanita yang tersihir namun tak ada penolakan tegas dari pemilik pesona. Rara semakin lama menjadi sangat terganggu dengan kehadiran banyak wanita yang dengan nyata ataupun tersirat mengejar-ngejar suaminya. Menurut Aangga, pesonanya adalah anugerah Tuhan, dan bukan kesalahannya jika banyak wanita yang mencintainya. Keadaan diperparah ketika telah sepuluh tahun perrnikahan mereka belum dikaruniai seorang anak.
Dalam kondisi itu, sahabatlah yang akan menampung segala keluh kesah. Adalah Moza, perempuan cantik sahabat Rara sejak kuliah hingga bekerja di klinik yang sama. Mozalah yang menjadi penampung gundah gulana baik dari Rara ataupun dari Angga. Hingga ternyata teman terkadang menjadi musuh yang terdekat. Semakin lama kedekatan Moza dan Angga bukan hanya sekedar teman curhat.

Novel ini kuat dari segi konflik batin dan pengetahuan mendalam tentang ilmu psikologi. Pembaca akan larut dalam permasalahan masing-masing lakon dan kemudian mengikuti alurnya sampai pada proses ketika mereka menemukan pemecahan masalah. Adalah seorang therapis, yang setiap hari kerjanya menerapi pasien dengan jiwa bermasalah, namun tak mungkin dia bebas dari masalah. Malah terkadang permasalahan yang dihadapi lebih pelik daripada pasien itu sendiri. Gambaran lain dari novel ini juga menceritakan perjuangan Rara untuk mengembangkan therapi pemulihan pasien dengan cara transpersonal, yaitu melalui pendekatan budaya dan melibatkan anggota keluarga serta meminimalisir farmakologi (penggunaan obat-obatan) mendapat tentangan dari ibu Sausan yang tetap ingin menggunakan cara-cara konvensional. Di tengah kemelutnya, Rara juga sempat bertemu dengan Farida, perempuan yang ditinggal mati suaminya akibat konflik berdarah di Poso. Perkenalan dan persahabatan yang sedikit banyak cukup memberi kontribusi pada cara pandang Rara terhadap pernikahannya.

Sinta yudisia mencoba mengangkat budaya Indonesia dari sisi lain. Yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh novelis lain. Dalam novel ini yang ditonjolkan adalah wacana penyembuhan penderita skizofrenia melalui pendekatan budaya. Bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan kenaturalan alam, kenaturalan sikap, kenaturalan persepsi dan pemecahan masalah. Jika segala sesuatu bisa diberikan solusi yang tidak selalu kimiawi, mengapa tidak dicoba? Apalagi permasalahan skizofrenia adalah permasalahan jiwa, dengan latar penyebab yang berbeda satu penderita dengan penderita lain. Mengapa therapis harus cepat menyerah untuk mendampingi jiwa mereka hingga bertemu kata “kemajuan”? di akhir cerita kita dibuat mengerti bahwa permasalahan psikologis sebenarnya bukan seratus persen bakat, namun terkadang malah dipicu oleh keadaan di sekitar. Suasana hati orang-orang terdekat. Ketika ingin menyembuhkan seorang penderita, orang-orang terdekat yang menjadi pemotivasipun juga harus di”sembuhkan”.

Dan persoalan jiwa, adalah persoalan empunya jiwa. Ketika menghadapai kenyataan yang begitu pelik, hingga tak kuat lagi menahannya, kadang penyembuh utama dari penyakit itu bukan sepenuhnya ada pada therapis, namun diri kita sendiri.

Terakhir, bagi saya pribadi Bulan Nararya adalah paket novel psikologi komplit yang disajikan dengan kuat, cerdas dan menawan. Sejatinya beginilah hidup. Ada satu kutipan yang saya catat, “Manusia berevolusi. Bukan yang terkuat yang dapat bertahan. Yang paling adaptiflah yang akan lulus seleksi alam, melewati sekian banyak rintangan.” (hal. 230)

#RESUMEBACAAN01



RESENSI NOVEL “BUKU INI TIDAK DIJUAL”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYPEN1Ub7BXOBEw7MlgGLige5wssoHDCUVM8TY_KH6OL1YWOB-QqTrgVm0N2DfC54P5nFB3K5sxIXNB4EIeGgXHEfyofLbdFWVeCUqB85xm0PoDN0OPojzPsEDXPHUdw4XqMIPeH-UwNA/s1600/cover+BITB.jpg
Judul               : Buku ini Tidak Dijual
Penulis             : Henny Alifah
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Tahun              : 2015

Simple, ringan, fokus, dan cerdas. Beberapa kata itu yang kemudian saya pilih untuk menggambarkan isi novel ini. Cerdas dari awal pemilihan judul, tentu saja. Pembaca akan dibuat penasaran tema seperti apa yang akan dipaparkan penulis dalam kisah mengenai buku yang tidak dijual.
Buku Ini Tidak Dijual (BITD) merupakan sebuah novel karya Henny Alifah yang menjadi pemenang pertama LMNI yang diadakan penerbit Indiva Media Kreasi. BITD mengisahkan perjalanan dua bersaudara (Gading dan Kingkin) dalam mengejar lima karung buku koleksi Padi (Ayah Gading) yang telah dijual oleh Kakek kepada pemulung. Dengan alasan buku itu akan lebih bermanfaat jika dijual karena pasti akan dibaca oleh mereka yang membutuhkan daripada hanya menganggur saja dan berdebu dalam lemari. Namun dengan pertimbangan tertentu, Padi bersikeras bahwa buku-buku itu tidak boleh dijual. Bahkan kemudian terjadi perseteruan kecil antara Padi dengan ayahnya yang nekat menjual buku-buku itu tanpa seizin Padi.
Berkat ide Kingkin, dua bersaudara tersebut akhirnya memutuskan untuk mengejar para pengumpul barang bekas tersebut agar bisa membawa pulang buku-buku Ayah Gading. Dalam proses pengejaran itu, banyak peristiwa yang mereka alami dan banyak pelajaran yang akhirnya membuat dua remaja itu mengerti seberapa penting makna buku-buku tersebut hingga mereka harus berkorban banyak hal untuk mendapatkannya kembali.
Sedikit banyak itulah inti dari cerita yang disajikan penulis dengan sajian yang benar-benar ringan, fokus pada tema dan sangat menonjolkan sisi dari literasi itu sendiri. Tak banyak penulis yang memberikan porsi banyak pada tema seperti ini, meskipun secara garis besar kisah perjalanan beberapa jam atau beberapa hari yang “mengubah” hidup seseorang telah banyak dilestarikan. Namun buku ini tetap patut diacungi jempol, penyelipan nilai-nilai dan pelajaran berharga yang tidak terkesan menggurui, menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca. Bahwa ini adalah novel yang menampilkan “wajah” islami dengan cara yang halus, cerdas, fokus, bersegmentasi luas, mudah masuk ke banyak kalangan dan tak perlu membuat kening pembaca berkernyit seribu saat menikmatinya.
Namun ada beberapa hal yang sebenarnya tidak cocok juga disebut sebagai kelemahan, karena ini mungkin sebatas pendapat subjektif dari saya peribadi, bahwa saya merasa meskipun novel ini mengedepankan ke”ringan”an dalam konteks tutur kalimat, namun saya agak sedikit kurang merasakan aura emosi dalam karakter tokohnya. Sebuah novel memang tidak harus dramatik, namun penulis yang berhasil adalah yang mampu membuat pembaca tidak hanya ikut alur cerita, namun juga alur emosi karakter dalam cerita. Ketika di akhir cerita, saya tidak bisa berdecak “Waw”, atau menghela napas, atau ekspresi lain yang menunjukkan bahwa saya baru saja merampungkan sebuah bacaan yang menguras perasaan saya selayaknya ketika membaca novel lain, meskipun itu adalah novel komedi sekalipun. Toh seyogyanya meskipun percakapan yang berisi “gurauan” juga perlu emosi. Itu yang pertama.
Yang kedua, saya agak sedikit gagal memahami makna yang tersirat dari penjualan/ penghibahan koleksi buku. Apakah memang harus disimpan sebagai koleksi karena buku adalah harta karun berharga, atau lebih baik dijual atau dihibahkan kepada mereka yang lebih membutuhkan bacaan-bacaan tersebut? Mungkin ini hanya pertanyaan dari pikiran pribadi saya sendiri, karena hal itu tentu sesuai dengan persepsi masing-masing.
Overall, BITD tetap jadi novel rekomendasi untuk jadi bahan bacaan bermutu namun tak membebani, saya berharap, novel ini bisa jadi motivasi untuk penulis lain dalam mengembangkan sebuah tema yang tidak hanya tentang roman piciran yang over dramatic saja, namun pembaca sebenarnya butuh tema-tema lain seperti yang sukses dikisahkan oleh seorang Henny Alifah.

Kamis, 02 April 2015

UNTUK HARI INI; KARENA HARI ITU



Biarkan aku sedikit bercerita tentangmu, mungkin tentang kita. Mungkin juga tentang sesuatu yang tanpa disadari telah dimulai pada suatu hari bertahun-tahun silam. Hari itu mengatakan bahwa mentari masih menggeliat belum sepenuhnya sedia membuka mata. Kita menyebutnya hari bersantai, karena kitalah segelintir siswa yang enggan ikut olimpiade sains ibukota dengan segudang pertimbangan pribadi (baca: kendala dana) dan alhasil mendapat anugerah untuk bersantai di asrama. Kenapa anugerah? Terkadang jam belajar bagi siswa sekolah menengah memang agak sedikit melelahkan. A little bit! J
Hari itu, delapan tahun yang lalu, kita merasa sedikit aneh ketika lewat pukul sembilan bumi mulai menunjukkan tanda-tanda kurang bersahabat. Awalnya bergoyang pelan, itu hal yang biasa terjadi di kawasan barat pulau sumatera ini. Kemudian bergoyang kembali, sedikit lebih keras. Naluri dan logika kita mulai terusik dan sesegera mungkin mengambil keputusan untuk lari tunggang langgang mencari tempat yang lapang dan aman sebelum goncangan lebih besar yang lain menyusul.
Gempa. Seolah jadi sajian rutin warga Sumatera Barat. Saban tahun sedikit goyangan akan memberi sapaan ringan. Namun kali ini agak sedikit berbeda sepertinya. Kita berlari keluar gerbang asrama dan memutuskan untuk singgah digedung TK depan asrama. Bisakah kusebut bahwa saat itu takdir untukmu baru saja dimulai? Aku selalu tersenyum mengingatnya.
Entah dari siapa instruksi untuk mengarahkan padangan ke rumah itu berasal. Rumah mungil yang diapit bangunan Poliklinik dan Laboratorium Komputer yang keduanya milik sekolah kami. Tidak ada yang tahu mengapa rumah itu menjadi satu-satunya yang bertahan disekeliling pekarangan yang mayoritas sudah menjadi hak milik perguruan puteri terbesar di Sumatera Barat ini. Entahlah. Sebelumnya, rumah itu terlalu sunyi untuk dijadikan pusat perhatian. Penghuninya jarang terlihat. Hanya seorang ibu yang setiap pagi terlihat berjalan menyandang tas dengan seragam khas para guru, dan seorang ayah yang sering bersantai di ruang depan. Anak-anak mereka? Itulah kemudian yang menjadi sebuah pertanyaan. Dan jawabannya kita temukan hari itu. Hari bersejarah untuk masyarakat Padang Panjang tentang sebuah cerita sedih bertema bencana alam dan musibah.
Namun hikmah buatmu, ada di hari ini, 03 April 2015. Ketika kau kenakan gaun pilihanmu dan bersimpuh menyaksikan ayahmu menjabat erat tangan seorang pemuda dan dengan mantap menyerahkan amanah untuk menjagamu selamanya. Dan pemuda itu, terlihat lebih mantap dari yang kau bayangkan sebelumnya. Ya, hari ini akad untukmu digelar. Pengucapan lafaz yang tak hanya sekedar lafaz yang hilang terhembus angin. Janji. Sumpah setia. Untuk tak sendiri lagi menghamba pada-Nya, pemilik diri, namun telah ada yang mengiringi. Hari ini pernikahanmu. Hari bersejarahmu untuk yang kesekian kalinya. Dan mungkin sepuluh tahun kemudian Kau akan dipaksa oleh puterimu untuk menyusun kalimat mendengar pertanyaan manisnya:
“Kapan Ibu pertama kali bertemu Ayah?”
Mungkin kau akan membelai rambut ikalnya dan tersenyum sebelum menjawab dengan satu kumpulan kalimat : Ibu melihatnya ada bersama musibah mengerikan. Gempa bumi 20 tahun yang lalu. Ayahmu ada diantara kepulan debu bangunan yang retak dan jeritan banyak orang. Tuhan mengirimkan Ayah bersama musibah yang kadang memang perlu disyukuri. Tak semua musibah menyandang arti bencana, namun kadang terselip berkah yang tak terhingga. Saat itu ibu melihatnya, dengan seragam sekolah yang masih melekat, dan ibu putuskan untuk tetap melihatnya. Pemuda yang tak banyak bicara, dan sepertinya tak banyak ulah. Kau tahu apa yang kemudian ibu lakukan? Ibu berdoa. Ya, ibu hanya lakukan hal sederhana itu. Berdoa. Doa ibu dijawab Allah ketika beberapa tahun kemudian Ibu kembali bertemu karena kuliah di kota yang sama.
Kemudian Kau lihat gadis kecilmu mengerjap riang, dan menyambung pertanyaan pertamanya dengan ratusan pertanyaan lain:
“Ibu sayang pada Ayah?”
Kau mengangguk mantap.
“Sejak kapan?”
Kau tersenyum.
“Sejak Ibu putuskan untuk tak ikut Olimpiade”. (*)


         Jakarta Selatan, 03 April 2015


Untukmu, sahabat paling cerewet anugerah Tuhan, Ressa Vernanda :D
Selamat membuka lembaran baru, berterimakasihlah padaku karena saat itu aku yang menyeretmu berlindung ke teras gedung TK yang mungil itu delapan tahun yang lalu dan memberitahumu bahwa di seberang sana ada pemandangan yang mampu mencetak sejarah. Hehe..
Semoga kebahagiaanmu lengkap, karena hidupmu mulai lengkap, tetaplah istiqamah merengkuh dan mencintai Tuhan, karena dengan rahmatNya kalian berdua dipertemukan. Doakan aku segera menyusul :D
Barokallahulakuma wa baroka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khoiri…


CERBUNG: RIMBO LANDAI



PART I
Aku tersentak mendengar lengkingan khas dari handphone ku dan bergegas mencari sumber suara yang sangat tidak membuat telinga nyaman itu. Aku memang sengaja memilih nada norak untuk alarm ku, karena rasa tidak nyaman di telinga pasti akan membuatku langsung terbangun untuk mematikannya.
Sudah pukul 03.00 dini hari!
Aku mengedarkan pandangan. Sudah berapa lamakah aku tertidur telungkup di depan laptop? Minggu ini aku benar-benar harus tunggang langgang dikejar deadline. Hingga untuk tidurpun tak biasa kunikmati dengan sempurna. Setengah enggan ku usap wajahku dan beringsut keluar kamar menuju dapur. Mendadak tenggorokanku sangat kering rasanya. Ku buka lemari pendingin di dapur, kuambil sekaleng jus lychee dan langsung menenggaknya setengah bagian. Ketika akan kembali ke kamar untuk memulai jadwal harian pukul 03.00 ku; menulis, kulihat pintu kamar kakakku agak sedikit terbuka dengan nyala lampu yang terang benderang. Tumben Kak Raya jam segini sudah bangun? Perasaanku mengatakan aku harus mendekati kamar itu. Mendadak jantungku berdegub keras saat kuraih hendel pintunya dan kudorong untuk membukanya. Aku terkesiap melihat betapa berantakannya kamar itu dan satu kenyataan yang harus kuhadapi: kakakku tak ada di kamarnya!

***