Sesungguhnya
saya juga tak ingin menamakan tulisan ini sebuah resensi atau review mengenai
baik buruknya seri ke-7 dari franchise fast furious ini. Banyak alasan.
Pertama, saya memang bukan ahli kritikus film. Kedua, saya belum pernah
benar-benar membuat resensi film kecuali hanya dalam kepala saya. Ketiga, film
ini adalah film yang tak perlu kritikan. Sejauh apapun dikaji kelebihan dan
kelemahan proses penyajiannya, film ini tetap akan menghadirkan penonton yang
membludak dan mengalirkan omset tinggi di setiap musimnya.
Hari
ini, 1 April 2015 merupakan pemutaran perdana Fast & Furious 7. Ketika melangkah masuk ke gedung bioskop,
saya sudah membayangkan apa yang akan terjadi. Antrian pembeli tiket masuk, dan
barisan kursi belakang yang akan jadi rebutan. Saya cukup beruntung masih
kebagian tiket dan mendapat posisi duduk deretan paling atas. Saat film
dimulai, saya sudah bersiap dengan kemungkinan bahwa film ini akan menjadi
ajang ‘mengurai air mata’. Saya cukup sentimentil memang, dan entah mengapa,
Paul Walker membuat kesentimentilan saya semakin menjadi.
Fast
& Furious 7, bisa merupakan ajang memorable dan ziarah secara tidak
langsung. Salah satu pemeran utamanya, Paul Walker meninggal dalam kecelakaan
tragis November 2013 yang lalu. Seluruh dunia tak menangisinya karena proses
syutingnya yang belum selesai, namun lebih dari itu. Tak banyak yang begitu
mengenal sosok Paul Walker selain pribadinya yang diam, tak banyak ulah, tak
pernah tersandung skandal pun masalah, tak pernah bertengger manis di majalah-majalah
hollywod yang menceritakan ‘kenakalan’nya, namun lebih pada kesuksesannya dan
konsistensinya dalam kesederhanaan.
Kehadiran film ini, merupakan upaya mengingat, mengenang, seolah memutar
kembali scene demi scene kehidupan Brian O’Connor yang diperankan
Paul Walker yang akhirnya hanya berhenti sampai disini.
Jelas,
seperti biasa, ciri khas dari film ini seperti adegan kejar-kejaran mobil,
pertunjukan mobil-mobil balap yang luar biasa, baku hantam, para wanita cantik
nan perkasa, para laki-laki kekar yang hidup keras namun sayang keluarga, dan
kesan film Hollywood bahwa “Jagoan tak boleh mati” tetap melekat. Namun
penonton akan mendapat suguhan istimewa berupa ending yang benar-benar
mengharukan. Kerja keras para kru film memang perlu diacungi jempol, kehadiran
Paul Walker tetap ada, meskipun dengan kombinasi teknologi CGI dan body doubles
yang terbilang jitu. Paul Walker tetap “hidup” sampai akhir film. Tetapi bagi
saya pribadi, semakin melihat peran yang dia mainkan, semakin mengingatkan saya
bahwa Paul tetap telah tiada.
Semenjak
dahulu, saya begitu mencintai musik dan apapun peristiwa yang terjadi ketika
musik itu dimainkan. Kali ini, Wiz Khalifa benar-benar membuat saya trenyuh
tanpa akhir. Pun ketika lampu bioskop telah dihidupkan tanda pertunjukan film
selesai, atau ketika perjalanan pulang, atau ketika telah saya dapatkan lagu
itu saat sampai di rumah. Salah satu single
nya berjudul “See You Again” yang
menjadi original soundtrack film ini
membuat kesedihan saya tanpa ujung (sedikit lebay mungkin). Namun memang benar,
pikiran saya jadi melayang dan teringat banyak hal. Memang, seseorang yang
minim ulah dan terkesan diam, terkadang punya tempat tersendiri dalam kenangan
orang banyak. Meskipun kita sendiri tak begitu jauh mengenalnya. Istirahatlah
Paul, semoga ketenanganlah yang Kau temui dimanapun Kau kini. Let the light guide your way.
Its been a long day without you
my friend and I’ll tell you all about it when I see you again.
Jakarta Selatan, 1 April 2015.
tak perlu jd ahli kritikus film utk buat resensi/review film. ckup ungkpkn pnilaian pribadi qt pun tak masalah. dan kamu sdh memulainya. lanjutkan! waiting for your next writing.
BalasHapusSetuju sama Ka Afilin
BalasHapus