Dan
ketika pada akhirnya kita telah tiba di satu titik tak bernama,
yang
keberadaannya punya andil utama dalam hal porak porandanya alur hidup seseorang
bernama manusia.
Kadang tak ada yang tersisa dari raga yang hanya berembelkan
sebuah nama.
Nama.
Nama.
Kemudian
tak bernama.
Sama
dengan titik yang dilewatinya.
Manusia
tak bernama, menempuh jalan tak berjarak, dan sampai di suatu tempat tak bernama
tak berpenghuni.
Manusia
hanya lelah.
Lelah menghindari satu fase dimana mereka tak mampu lebih dari
sekedar bertahan hidup.
Sama
halnya dengan gerakan jemari yang saling mengejar hanya untuk onggokan huruf
bisu.
Kau
boleh menyebutnya syair putus asa, yang tak pernah tahu akan bermuara dimana.
Kau juga boleh menyebutnya syair sia-sia, yang tak
mengerti mengapa kau harus berhenti untuk singgah.
Hingga
ketidakpastiannya membuatmu bergegas melihat ke belakang. Mencari namamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar