Kamis, 20 November 2014

SYAIR TANPA NAMA



Dan ketika pada akhirnya kita telah tiba di satu titik tak bernama,
yang keberadaannya punya andil utama dalam hal porak porandanya alur hidup seseorang bernama manusia. 
Kadang tak ada yang tersisa dari raga yang hanya berembelkan sebuah nama.
Nama.
Nama.
Kemudian tak bernama.
Sama dengan titik yang dilewatinya.
Manusia tak bernama, menempuh jalan tak berjarak, dan sampai di suatu tempat tak bernama tak berpenghuni.
Manusia hanya lelah. 
Lelah menghindari satu fase dimana mereka tak mampu lebih dari sekedar bertahan hidup.
Sama halnya dengan gerakan jemari yang saling mengejar hanya untuk onggokan huruf bisu.
Kau boleh menyebutnya syair putus asa, yang tak pernah tahu akan bermuara dimana.
Kau juga boleh menyebutnya syair sia-sia, yang tak mengerti mengapa kau harus berhenti untuk singgah.
Hingga ketidakpastiannya membuatmu bergegas melihat ke belakang. Mencari namamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar