RESENSI NOVEL “BUKU INI TIDAK DIJUAL”
Judul : Buku ini Tidak Dijual
Penulis : Henny Alifah
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun : 2015
Simple,
ringan, fokus, dan cerdas. Beberapa kata itu yang kemudian saya pilih untuk
menggambarkan isi novel ini. Cerdas dari awal pemilihan judul, tentu saja. Pembaca
akan dibuat penasaran tema seperti apa yang akan dipaparkan penulis dalam kisah
mengenai buku yang tidak dijual.
Buku
Ini Tidak Dijual (BITD) merupakan sebuah novel karya Henny Alifah yang menjadi
pemenang pertama LMNI yang diadakan penerbit Indiva Media Kreasi. BITD
mengisahkan perjalanan dua bersaudara (Gading dan Kingkin) dalam mengejar lima
karung buku koleksi Padi (Ayah Gading) yang telah dijual oleh Kakek kepada
pemulung. Dengan alasan buku itu akan lebih bermanfaat jika dijual karena pasti
akan dibaca oleh mereka yang membutuhkan daripada hanya menganggur saja dan
berdebu dalam lemari. Namun dengan pertimbangan tertentu, Padi bersikeras bahwa
buku-buku itu tidak boleh dijual. Bahkan kemudian terjadi perseteruan kecil antara
Padi dengan ayahnya yang nekat menjual buku-buku itu tanpa seizin Padi.
Berkat
ide Kingkin, dua bersaudara tersebut akhirnya memutuskan untuk mengejar para
pengumpul barang bekas tersebut agar bisa membawa pulang buku-buku Ayah Gading.
Dalam proses pengejaran itu, banyak peristiwa yang mereka alami dan banyak
pelajaran yang akhirnya membuat dua remaja itu mengerti seberapa penting makna
buku-buku tersebut hingga mereka harus berkorban banyak hal untuk
mendapatkannya kembali.
Sedikit
banyak itulah inti dari cerita yang disajikan penulis dengan sajian yang
benar-benar ringan, fokus pada tema dan sangat menonjolkan sisi dari literasi
itu sendiri. Tak banyak penulis yang memberikan porsi banyak pada tema seperti
ini, meskipun secara garis besar kisah perjalanan beberapa jam atau beberapa
hari yang “mengubah” hidup seseorang telah banyak dilestarikan. Namun buku ini
tetap patut diacungi jempol, penyelipan nilai-nilai dan pelajaran berharga yang
tidak terkesan menggurui, menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca. Bahwa ini
adalah novel yang menampilkan “wajah” islami dengan cara yang halus, cerdas,
fokus, bersegmentasi luas, mudah masuk ke banyak kalangan dan tak perlu membuat
kening pembaca berkernyit seribu saat menikmatinya.
Namun
ada beberapa hal yang sebenarnya tidak cocok juga disebut sebagai kelemahan,
karena ini mungkin sebatas pendapat subjektif dari saya peribadi, bahwa saya
merasa meskipun novel ini mengedepankan ke”ringan”an dalam konteks tutur
kalimat, namun saya agak sedikit kurang merasakan aura emosi dalam karakter
tokohnya. Sebuah novel memang tidak harus dramatik, namun penulis yang berhasil
adalah yang mampu membuat pembaca tidak hanya ikut alur cerita, namun juga alur
emosi karakter dalam cerita. Ketika di akhir cerita, saya tidak bisa berdecak “Waw”,
atau menghela napas, atau ekspresi lain yang menunjukkan bahwa saya baru saja
merampungkan sebuah bacaan yang menguras perasaan saya selayaknya ketika
membaca novel lain, meskipun itu adalah novel komedi sekalipun. Toh seyogyanya
meskipun percakapan yang berisi “gurauan” juga perlu emosi. Itu yang pertama.
Yang
kedua, saya agak sedikit gagal memahami makna yang tersirat dari penjualan/
penghibahan koleksi buku. Apakah memang harus disimpan sebagai koleksi karena
buku adalah harta karun berharga, atau lebih baik dijual atau dihibahkan kepada
mereka yang lebih membutuhkan bacaan-bacaan tersebut? Mungkin ini hanya
pertanyaan dari pikiran pribadi saya sendiri, karena hal itu tentu sesuai
dengan persepsi masing-masing.
Overall,
BITD tetap jadi novel rekomendasi untuk jadi bahan bacaan bermutu namun tak
membebani, saya berharap, novel ini bisa jadi motivasi untuk penulis lain dalam
mengembangkan sebuah tema yang tidak hanya tentang roman piciran yang over dramatic
saja, namun pembaca sebenarnya butuh tema-tema lain seperti yang sukses
dikisahkan oleh seorang Henny Alifah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar