Sabtu, 23 Mei 2015

#RESUMEBACAAN01



RESENSI NOVEL “BUKU INI TIDAK DIJUAL”

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhYPEN1Ub7BXOBEw7MlgGLige5wssoHDCUVM8TY_KH6OL1YWOB-QqTrgVm0N2DfC54P5nFB3K5sxIXNB4EIeGgXHEfyofLbdFWVeCUqB85xm0PoDN0OPojzPsEDXPHUdw4XqMIPeH-UwNA/s1600/cover+BITB.jpg
Judul               : Buku ini Tidak Dijual
Penulis             : Henny Alifah
Penerbit           : Indiva Media Kreasi
Tahun              : 2015

Simple, ringan, fokus, dan cerdas. Beberapa kata itu yang kemudian saya pilih untuk menggambarkan isi novel ini. Cerdas dari awal pemilihan judul, tentu saja. Pembaca akan dibuat penasaran tema seperti apa yang akan dipaparkan penulis dalam kisah mengenai buku yang tidak dijual.
Buku Ini Tidak Dijual (BITD) merupakan sebuah novel karya Henny Alifah yang menjadi pemenang pertama LMNI yang diadakan penerbit Indiva Media Kreasi. BITD mengisahkan perjalanan dua bersaudara (Gading dan Kingkin) dalam mengejar lima karung buku koleksi Padi (Ayah Gading) yang telah dijual oleh Kakek kepada pemulung. Dengan alasan buku itu akan lebih bermanfaat jika dijual karena pasti akan dibaca oleh mereka yang membutuhkan daripada hanya menganggur saja dan berdebu dalam lemari. Namun dengan pertimbangan tertentu, Padi bersikeras bahwa buku-buku itu tidak boleh dijual. Bahkan kemudian terjadi perseteruan kecil antara Padi dengan ayahnya yang nekat menjual buku-buku itu tanpa seizin Padi.
Berkat ide Kingkin, dua bersaudara tersebut akhirnya memutuskan untuk mengejar para pengumpul barang bekas tersebut agar bisa membawa pulang buku-buku Ayah Gading. Dalam proses pengejaran itu, banyak peristiwa yang mereka alami dan banyak pelajaran yang akhirnya membuat dua remaja itu mengerti seberapa penting makna buku-buku tersebut hingga mereka harus berkorban banyak hal untuk mendapatkannya kembali.
Sedikit banyak itulah inti dari cerita yang disajikan penulis dengan sajian yang benar-benar ringan, fokus pada tema dan sangat menonjolkan sisi dari literasi itu sendiri. Tak banyak penulis yang memberikan porsi banyak pada tema seperti ini, meskipun secara garis besar kisah perjalanan beberapa jam atau beberapa hari yang “mengubah” hidup seseorang telah banyak dilestarikan. Namun buku ini tetap patut diacungi jempol, penyelipan nilai-nilai dan pelajaran berharga yang tidak terkesan menggurui, menjadi daya tarik tersendiri untuk pembaca. Bahwa ini adalah novel yang menampilkan “wajah” islami dengan cara yang halus, cerdas, fokus, bersegmentasi luas, mudah masuk ke banyak kalangan dan tak perlu membuat kening pembaca berkernyit seribu saat menikmatinya.
Namun ada beberapa hal yang sebenarnya tidak cocok juga disebut sebagai kelemahan, karena ini mungkin sebatas pendapat subjektif dari saya peribadi, bahwa saya merasa meskipun novel ini mengedepankan ke”ringan”an dalam konteks tutur kalimat, namun saya agak sedikit kurang merasakan aura emosi dalam karakter tokohnya. Sebuah novel memang tidak harus dramatik, namun penulis yang berhasil adalah yang mampu membuat pembaca tidak hanya ikut alur cerita, namun juga alur emosi karakter dalam cerita. Ketika di akhir cerita, saya tidak bisa berdecak “Waw”, atau menghela napas, atau ekspresi lain yang menunjukkan bahwa saya baru saja merampungkan sebuah bacaan yang menguras perasaan saya selayaknya ketika membaca novel lain, meskipun itu adalah novel komedi sekalipun. Toh seyogyanya meskipun percakapan yang berisi “gurauan” juga perlu emosi. Itu yang pertama.
Yang kedua, saya agak sedikit gagal memahami makna yang tersirat dari penjualan/ penghibahan koleksi buku. Apakah memang harus disimpan sebagai koleksi karena buku adalah harta karun berharga, atau lebih baik dijual atau dihibahkan kepada mereka yang lebih membutuhkan bacaan-bacaan tersebut? Mungkin ini hanya pertanyaan dari pikiran pribadi saya sendiri, karena hal itu tentu sesuai dengan persepsi masing-masing.
Overall, BITD tetap jadi novel rekomendasi untuk jadi bahan bacaan bermutu namun tak membebani, saya berharap, novel ini bisa jadi motivasi untuk penulis lain dalam mengembangkan sebuah tema yang tidak hanya tentang roman piciran yang over dramatic saja, namun pembaca sebenarnya butuh tema-tema lain seperti yang sukses dikisahkan oleh seorang Henny Alifah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar