BULAN
NARARYA
RESENSI BACAAN MINGGU INI
OLEH : MU’AWIYATU AL LAITSI
Judul : Bulan Nararya
Penulis : Sinta Yudisia
Penerbit : Indiva
Media Kreasi
Tebal : 256 hal
Genre : Fiksi
Terbit : September 2014
ISBN : 9786021614334
Novel ini meraih penghargaan sebagai Juara ketiga Kategori
Novel dalam ajang bergengsi, Kompetisi Tulis Nusantara yang
diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Saya sangat
mengenal betul ajang kompetisi ini. Sebagai peserta yang telah tiga kali berpartisipasi,
dan Alhamdulillah ketiga-tiganya memilih bersikap rendah hati dengan membiarkan
naskah lain yang lolos jadi pemenang, saya tahu betul tulisan seperti apa yang
diharapkan para juri. Naskah berlatar kultur daerah dengan lokalitas yang
kental sudah pasti akan langsung dilirik sebagai nominator juara. Ekspektasi
pertama saya ketika melihat desain cover dan pemilihan judul yang sangat
eksotis dari novel ini kurang lebih sama dengan bayangan cerita khas berlatar
budaya yang kuat. Namun tebakan saya tidak sepenuhnya salah, novel ini juga
banyak menggambarkan beberapa tempat di
Indonesia yang mencerminkan keindahan nusantara. Ada kota Palu dengan
keelokan Pantai Talise, ada kemegahan Jembatan Suramadu, juga beberapa kuliner
khas nusantara. Namun bukan itu yang menjadi poin utamanya. Bulan Nararya
adalah novel psikologi yang sangat kuat.
Tokoh sentral dari novel ini adalah Nararya, atau biasa
dipanggil Rara. Seorang therapis di sebuah klinik kesehatan mental milik Bu
Sausan yang menyahabatkan diri dengan para pasien yang tinggal di klinik itu.
Diantaranya, Yudhistira, laki-laki pengidap skizofrenia yang gemar melukis.
Gangguan kejiwaan padanya diduga diperparah oleh pola pengasuhan sejak kecil.
Yudhistira yang hidup di bawah bayangan otoritas dan pengekangan dari ibu dan
ketiga kakak perempuannya. Hidupnya diproteksi ketat oleh para wanita
terdekatnya, bahkan sampai dia berumah tanggapun, ibunya masih memberikan
sokongan materi untuknya. Ketika beristerikan Diana, keadaan makin membuatnya
tertekan. Diana adalah perempuan mandiri, keras kepala dan menolak segala
bentuk dukungan materil dari keluarga mertuanya. Pada akhirnya yang terjadi
hanyalah pertengkaran karena pergumulan sifat kontradiktif dari wanita-wanita
di sekelilingnya.
Ada juga Pak Bulan, lelaki mantan residivis yang gemar
menatap bulan berlama-lama, dan dibuang oleh lembaga pemasyarakatan. Kemudian
Sania, gadis kecil yang dilahirkan oleh ibu perokok yang suka gonta ganti
pasangan, memiliki ayah pemabuk dan dibesarkan oleh nenek yang pemukul. Sania
tumbuh menjadi gadis kecil yang hanya bisa mengenyam pendidikan sampai kelas 2
SD, dan kondisi tubuh yang penuh jejak kekerasan serta sangat kurang gizi.
Disamping persoalan penghuni klinik tersebut, sebenarnya
Rara juga mengalami konflik yang sama beratnya. Bersuamikan Angga, laki-laki
penuh pesona yang punya kelebihan magnet dalam auranya. Sehingga banyak wanita
yang tersihir namun tak ada penolakan tegas dari pemilik pesona. Rara semakin
lama menjadi sangat terganggu dengan kehadiran banyak wanita yang dengan nyata
ataupun tersirat mengejar-ngejar suaminya. Menurut Aangga, pesonanya adalah
anugerah Tuhan, dan bukan kesalahannya jika banyak wanita yang mencintainya.
Keadaan diperparah ketika telah sepuluh tahun perrnikahan mereka belum
dikaruniai seorang anak.
Dalam kondisi itu, sahabatlah yang akan menampung segala
keluh kesah. Adalah Moza, perempuan cantik sahabat Rara sejak kuliah hingga
bekerja di klinik yang sama. Mozalah yang menjadi penampung gundah gulana baik
dari Rara ataupun dari Angga. Hingga ternyata teman terkadang menjadi musuh
yang terdekat. Semakin lama kedekatan Moza dan Angga bukan hanya sekedar teman
curhat.
Novel ini kuat dari segi konflik batin dan pengetahuan
mendalam tentang ilmu psikologi. Pembaca akan larut dalam permasalahan
masing-masing lakon dan kemudian mengikuti alurnya sampai pada proses ketika
mereka menemukan pemecahan masalah. Adalah seorang therapis, yang setiap hari
kerjanya menerapi pasien dengan jiwa bermasalah, namun tak mungkin dia bebas
dari masalah. Malah terkadang permasalahan yang dihadapi lebih pelik daripada
pasien itu sendiri. Gambaran lain dari novel ini juga menceritakan perjuangan
Rara untuk mengembangkan therapi pemulihan pasien dengan cara transpersonal,
yaitu melalui pendekatan budaya dan melibatkan anggota keluarga serta
meminimalisir farmakologi (penggunaan obat-obatan) mendapat tentangan dari ibu
Sausan yang tetap ingin menggunakan cara-cara konvensional. Di tengah
kemelutnya, Rara juga sempat bertemu dengan Farida, perempuan yang ditinggal
mati suaminya akibat konflik berdarah di Poso. Perkenalan dan persahabatan yang
sedikit banyak cukup memberi kontribusi pada cara pandang Rara terhadap
pernikahannya.
Sinta yudisia mencoba mengangkat budaya Indonesia dari sisi
lain. Yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh novelis lain. Dalam novel ini
yang ditonjolkan adalah wacana penyembuhan penderita skizofrenia melalui
pendekatan budaya. Bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan kenaturalan
alam, kenaturalan sikap, kenaturalan persepsi dan pemecahan masalah. Jika
segala sesuatu bisa diberikan solusi yang tidak selalu kimiawi, mengapa tidak
dicoba? Apalagi permasalahan skizofrenia adalah permasalahan jiwa, dengan latar
penyebab yang berbeda satu penderita dengan penderita lain. Mengapa therapis harus
cepat menyerah untuk mendampingi jiwa mereka hingga bertemu kata “kemajuan”? di
akhir cerita kita dibuat mengerti bahwa permasalahan psikologis sebenarnya
bukan seratus persen bakat, namun terkadang malah dipicu oleh keadaan di
sekitar. Suasana hati orang-orang terdekat. Ketika ingin menyembuhkan seorang
penderita, orang-orang terdekat yang menjadi pemotivasipun juga harus di”sembuhkan”.
Dan persoalan jiwa, adalah persoalan empunya jiwa. Ketika
menghadapai kenyataan yang begitu pelik, hingga tak kuat lagi menahannya,
kadang penyembuh utama dari penyakit itu bukan sepenuhnya ada pada therapis,
namun diri kita sendiri.
Terakhir, bagi saya pribadi Bulan Nararya adalah paket novel
psikologi komplit yang disajikan dengan kuat, cerdas dan menawan. Sejatinya
beginilah hidup. Ada satu kutipan yang saya catat, “Manusia berevolusi. Bukan yang terkuat yang dapat bertahan. Yang
paling adaptiflah yang akan lulus seleksi alam, melewati sekian banyak
rintangan.” (hal. 230)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar